Wah ternyata aku orangnya bener-bener moody, salah satu buktinya adalah cukup lamanya penulis blog dari posting terakhir. Hampir 1 bulan ngga nulis-nulis blog…… Sebenarnya sih pengen nulis tiap hari tapi ada aja halangannya, mulai dari kerjaan mendadak datang, males nulis, sampai bingung mau nulis apa?Pada posting kali ini aku akan melanjutkan cerita dari posting sebelumnya, yaitu apa aja yang aku lakukan selama di kampung halaman.
Agenda selama di kampung halaman ternyata padat juga karena selama 2 hari aku bersama keluarga keliling ke saudara-saudara sampai acara main-main, sampai-sampai istriku hampir pingsan saat melakukan beberapa aktifitas tapi Alhamdulillah setelah dicek kondisi istri dan kandungannya sehat-sehat saja.
Perjalananku dimulai pada hari keesokan harinya dari sesampainya di Malang. Dengan menggunakan mobil Panther sewaan perjalanan aku mulai dengan mengunjungi makan Ibu, Nenek (dari Ibu), Kakek (dari Ibu), Nenek (dari Ayah), dan makan beberapa saudara. Kebetulan makam-makam tersebut saling beredekatan (masih dalam satu komplek pemakaman) sehinga memudahkan untuk mengunjunginya. Malah makan Ibu, Nenek (dari Ibu), dan Kakek (dari Ibu) saling bersebelahan.
Setelah selesai berdoa untuk para arwah almarhum dan almarhumah, perjalanan dilanjutkan untuk isi bensin perut kita-kita yang terdiri dari aku, istriku, adek cewekku, ayahku, dan supir. Tujuan tempat makannya adalah warung nasi pecel. Warung nasi pecel ini sudah ada sejak aku masih kecil dimana warung tersebut sudah dikelola oleh generasi kedua atau anak dari pemilik warung nasi pecel tersebut. Lokasinya terlalu jauh dari komplek pemakaman kurang lebih 500 meter tepatnya di depan lapangan Sampo atau nempel dengan tembok dari SMPN 19 Malang. Karena rasanya yang khas dibanding nasi pecel lain sehingga membuat aku ketagihan terutama istriku yang menjadi kunjungan keduanya di warung nasi pecel tersebut.
Setelah cukup mengisi perut dengan nasi pecel, perjalanan dilanjutkan ke rumah Pak Dhe di daerah Klayatan. Sesampainya rumah Pak Dhe aku dan rombongan menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga Pak Dhe dan juga keluarga Pak Lek yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah Pak Dhe. Setelah kurang lebih 1 jam berada dirumah Pak Dhe dan Pak Lek maka aku minta pamit untuk melanjutkan perjalanan dan anak Pak Dhe yang nomor 2 ikut dalam rombongkanku. Perjalanan pun dilanjutkan menuju kota Tulungangung.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari kota Malang akhirnya aku dan rombongan sampai juga di kota Tulungagung. Agendaku di kota ini adalah silaturahmi dengan keluarga yang masih ada pertalian keluarga dengan Nenek dari Ibuku. Karena sudah cukup lama tidak berkunjung ke rumah keluarga tersebut (aku terakhir kesana adalah 15 tahun yang lalu) sehingga menyebabkan lamanya pencarian rumahnya. Setelah berkeliling-keliling di daerah yang kira-kira menjadi lokasi rumah saudara jauh ini berada selama kurang lebih 1 jam akhirnya kita menemukannya juga rumah dari keluarga tersebut. Waktu 15 tahun ternyata banyak merubah keluarga tersebut mulai dari usia yang semakin renta dan juga cucu-cucu mulai bertambah.
Kurang lebih 1 jam kami dan rombongan beristirahat dan juga saling mengenang urutan-urutan keluarga yang menyambungkan kami. Setelah itu agenda selanjutnya adalah berziarah ke makan orang tua (Bapak dan Ibu) dari Nenek (dari Ibu) atau istilahnya adalah makan dari Buyut aku. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah saudara dengan makan Buyut aku, dengan berkendara hanya memakan waktu 5 menit. Sesampainya di makam Buyut aku ternyata kondisinya banyak berubah dan cukup memprihatinkan sebab makam Buyut laki-laki hampir hilang dan kondisi makam Buyut perempuan sudah pecah-pecah batu nisannya. Selain berdoa di makan para Buyut aku, kami juga berdoa untuk adik dan kakak dari Nenek (dari Ibu) dan juga saya berbincang dengan saudara yang ada di Tulungagung tersebut untuk meruntut silsilah keluarga aku.
Setelah selesai berdoa disemua makam keluarga yang ada kompleks makam tersebut kami pun berpamitan dengan keluarga Tulungagung yang mengantar kami ke makam-makam keluarga. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kediri, namun mampir dulu ke warung sate kambing langganan kami yang kebetulan ngga jauh dari lokasi makam. Dulunya yang jualan adalah suami dari pemilik sekarang, namun karena sang suami sudah meninggal maka yang meneruskan usaha warung sate adalah istrinya yang tentunya sudah tidak muda lagi (15 tahun yang lalu gitu loh). Racikan yang khas dari warung sate ini adalah ditambahkannya daun jeruk nipis dalam bumbu kecapnya, sehingga menghasilkan aroma yang segar dan gurih. Namun sayang karena pembakarannya kurang bagus hasilnya daging satenya masih terlalu keras sehingga membutuhkan sedikit kerja keras untuk mengunyahnya.
Cukup mengisi perut kami, maka perjalanan dilanjutkan menuju rumah Pak Lek (adek dari Ibu) yang berada di Kota Kediri. Perjalanan dari Tulungagung ke Kediri memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sesampainya di rumah Pak Lek, kamipun langsung istirahat, mandi, dan sholat Maghrib. Setelah selesai aktifitas tersebut tuan rumah sudah menyiapkan hidangan makan malan, sehingga kami pun langsung menghajar hidangan yang telah tersedia.
Selepas sholat Isya’ kami memutuskan untuk berkeliling kota Kediri dan melihat suasana kota Kediri di malam hari. Kami pun menyempatkan untuk membeli oleh-oleh khas Kediri yaitu tahu taqwa. Setelah puas berbelanja oleh-oleh kita lanjutkan nongkrong dipinggir jalan sambil menikmati ronde, yaitu minuman hangat yang berisi aneka macam kudapan. Cukup menghangatkan diri dengan ronde, perjalanan keliling kota dilanjutkan menuju Proliman yaitu sebuah monumen yang berisi gambar-gambar perjalanan dari kota Kediri dari mulai jaman pra sejarah sampai ke jaman modern. Proliman ini menjadi icon kota Kendiri yang baru selalu oleh-oleh tahu. Di Proliman ini tentunya kami melakukan foto-foto dengan suasana malam sehabis hujan dan penerangan dari lampu-lampu yang berwarna kuning semakin indah suasana malam di Proliman.

Makam Nenek (dari Ibu), makan Ibu, dan makam Kakek (dari Ibu)

Nikmatnya makan nasi pecel

Makam Buyut laki-laki (Setro Rejo)

Makam Buyut perempuan (Kasiyem)

Mbah penjual sate kambing meracik bumbu

Sang pembakar sate kambing

Berada di toko oleh-oleh untuk nyari tahu taqwa

Nikmatnya ronde hangat penggir jalan

Gerobak penjual ronde

Suasana Proliman diwaktu malam

Foto bersama tentunya di depan Proliman